Hibriditas dan Transkulturalitas Film Si Juki: Harta Pulau Monyet Melalui Tipologi Perubahan Industri Kreatif
DOI:
https://doi.org/10.24821/eabnxv52Keywords:
Hibriditas, Transkulturalitas, Industri Kreatif, Animasi, Tipologi PerubahanAbstract
Industri animasi Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan melalui hadirnya karya-karya yang berupaya menyesuaikan diri dengan dinamika ekosistem kreatif global. Film Si Juki: Harta Pulau Monyet (2024) menjadi contoh menarik karena memadukan humor lokal berbasis budaya Betawi dengan estetika visual dan teknologi animasi digital modern. Penelitian ini menganalisis bagaimana hibriditas dan transkulturalitas terbentuk dalam film tersebut melalui dua dimensi utama industri kreatif—semiotic codes dan material base—dengan menggunakan tipologi perubahan industri kreatif yang dikembangkan oleh Jones, Lorenzen, dan Sapsed (2015), yaitu Preserve, Ideate, Transform, dan Recreate. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif melalui pembacaan teks film, khususnya pada aspek narasi, gaya visual, humor dan simbol budaya, serta teknologi produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menampilkan hibriditas melalui negosiasi antara simbol budaya lokal dan elemen budaya populer global, membentuk “third space” sebagaimana dijelaskan Bhabha. Sementara itu, transkulturalitas muncul melalui konfigurasi ulang estetika dan teknologi yang memungkinkan nilai budaya lokal tampil dalam format yang kompetitif secara global, sejalan dengan konsep budaya lintas-batas Welsch. Melalui tipologi Jones dkk., film ini menunjukkan dinamika Preserve pada identitas dan humor lokalnya, Transform pada perubahan teknologi produksi, Ideate pada inovasi semiotik, serta Recreate pada perpaduan radikal gaya dan medium. Secara keseluruhan, Si Juki: Harta Pulau Monyet menjadi representasi integratif dari transformasi industri animasi Indonesia dalam menghadapi globalisasi budaya.