Eulogy Atas Batas Realitas: Keruangan Virtual dalam Kolaborasi Musik Eksperimental Berbasis Stereoskopis
DOI:
https://doi.org/10.24821/dd0wdh24Keywords:
embodied spatial experience, stereoskopis, coextensive space, musik eksperimental, kolaborasi ruang nyata–virtual, VR artAbstract
Penelitian ini mengkaji pengalaman keruangan Virtual Reality (VR) melalui karya Eulogy, sebuah video VR musik eksperimental yang dirancang sebagai ruang kolaboratif antara performer, audiens, dan lingkungan digital. Fokus penelitian diarahkan pada dua aspek utama: pertama, bagaimana teknologi stereoskopis membentuk persepsi keruangan yang embodied; kedua, bagaimana tubuh audiens bernegosiasi dengan ruang virtual dan ruang fisik secara simultan selama proses kolaboratif seni. Dalam Eulogy, audiens tidak hanya menyaksikan, tetapi diundang untuk membunyikan alat musik atau objek suara di ruang nyata, sehingga batas antara realitas dan virtual menjadi kabur dan membentuk pengalaman ruang yang hibrid. Perekaman karya dilakukan menggunakan Canon R5 dan lensa Canon RF 5.2mm f/2.8L Dual Fisheye 3D VR untuk menghasilkan VR180 stereoskopis yang mempertebal sensasi kedalaman visual. Audio binaural digunakan untuk menciptakan arsitektur auditori yang memandu orientasi tubuh. Metode practice-based research diterapkan melalui empat tahap: konseptualisasi ruang–bunyi, perekaman stereoskopis, eksplorasi performatif tubuh dalam ruang digital, dan refleksi kolaboratif bersama audiens. Proses ini memungkinkan analisis langsung terhadap pengalaman tubuh ketika berada “di dua ruang” pada saat bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stereoskopi berperan penting dalam memperkuat self-location dan imersi, sementara kolaborasi bunyi antara ruang nyata dan virtual memicu pengalaman multisensorik yang menegaskan sifat coextensive space—ruang yang tumpang tindih antara fisik dan digital. Audiens melaporkan perpindahan antara keterasingan dan kedekatan, serta munculnya sensasi berada “di wilayah perbatasan” antara realitas dan virtual. Dengan demikian, Eulogy berfungsi sebagai suatu ritus peralihan: sebuah eulogi bagi “realitas tunggal” dan pembuka jalan menuju pengalaman ruang yang majemuk, embodied, dan reflektif. Penelitian ini berkontribusi pada kajian seni VR dengan menunjukkan bahwa ruang virtual dapat menjadi ruang kolaboratif yang mengaburkan batas realitas, membentuk pengalaman embodied yang tidak hanya visual, tetapi juga performatif dan sensorik.